Sabtu, 30 Oktober 2010

jejak 21 *malas si malas*



berhenti disitu. jangan coba-coba dekati aku lagi. cukup sudah kau mengatur hidupku. dasar MALAS. aku benci kamu. membuatku melupakan segalanya. membuatku melalaikan apa yg harus aku lakukan. membuai aku dalam ketiadaan.

pergi kamu. dasar si MALAS. tak tahu diri sekali. mengoyak-oyak hidupku sambil menyeringai puas. sementara aku. menyesali apa yang terjadi. sudah cukup kau buat ku seperti ini. cukup.

aku berhenti sampai di sini.
aku tak akan melanjutkannya lagi.
aku akan membuang jauh dirimu.
sekuat tenagaku. sebisaku. semampuku.
dan aku yakin aku pasti bisa.

akan ku buang kau ke jalanan. aku kirim kau ketempat yang paling jauh. hingga tak terjangkau. agar kau tak dapati memporak porandakan hidup orang lain. baik aku ataupun siapapun. tak akan pernah lagi.

Minggu, 24 Oktober 2010

jejak 20 'lagi sebeeel'

hari ini sebenarnya aq tak pernah berjanji padanya untuk bertemu. namun dengan enaknya dia hadir tanpa memberitahu. lama-lama dan sangat lama sekali. berceloteh. bercerita. tertawa. senang sekali rupanya. tak tega aq mengusirnya.

sementara dia dengan dunianya sendiri. menikmati dengan tawanya disampingku. kutinggalkan saja dia yang sedang tertawa. dan aq pergi tertawa bersama sahabatku. bercerita. berkelakar. dan tiba-tiba dia melihat dengan sinisnya.

seakan berkata "aq diacuhkan, untuk apa aq datang". hahaha. terserahlah. khan aq tidak mengundang. kau datang sesuka hatimu. padahal baru saja aq beranjak bersiap untuk pergi. dasar tak tahu waktu.

dengan bosannya aq menunggu atas kepulangannya. sampai bosan. mati rasa. karena aq sedang tidak mengharapkannya datang saat ini. tidak ingin melihatnya saja untuk hari ini. bosan dan terlalu bosan. hingga aq tinggalkan saja dia sendiri lagi. entah apa lagi yang sedang dilakukannya.

dan sepertinya dia sangat sebal. dan sekarang dia sedang berusaha menahanku lebih lama agar tidak pergi. maka kuacuhkan saja kembali. benar-benar tak ku gubris. hanya sesekali kulirik. apakah dia sudah pergi.

dan ternyata dia masih bertahan. entah sampai kapan. dengan gerimis kecil yang tenang. berusaha menahanku lebih dan lebih lama lagi. agar aq tetap memperhatikannya. dasar si hujan.

Jumat, 22 Oktober 2010

jejak 19 *Surat Cintaku untuk Presiden*



Rabu, 20-10-2010

“Bapak Presiden yang saya hormati dan kagumi. Saya mohon maaf sebelumnya. Saya bukan orang yang bisa berbasa basi. Tapi saya juga bukan orang yang bisa langsung mengutarakan apa yang saya pikirkan.
Saya perkenalkan dulu siapa saya, saya hanya seorang warga negara Indonesia yang berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negri di pulau Jawa.
Malam ini saya bingung dan hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang saya rasakan. Dan saya menulis surat ini selesai saya berbincang dengan teman sekamar kostan saya. Tentang Indonesia dan pemerintahannya.
Entah mengapa banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba timbul dibenak dan pikiran saya. Namun saya sendiri tidak dapat menjabarkan satu persatu. Apa karena saya memang terlalu bodoh ? Atau apakah mungkin karena memang masalah di negri ini sudah terlalu rumit seperti benang kusut yang sulit diluruskan kembali seperti apa yang telah dikatakan teman saya. Apa karena saya masih berstatus mahasiswa dan masih memiliki sebuah kata yang dinamakan idealisme. Entah satu kata itu baik atau buruk. Tapi bagi saya apa yang saya lihat dan saya dengar itu yang saya tahu.
Indonesia ya itulah negri kita Pak. Dimana saya, keluarga saya, teman-teman saya, tetangga saya, kenalan saya, musuh saya dan tentunya Bapak sendiri dan semua oknum pemerintahan tinggal di sana. Apa benar adanya seperti yang teman saya katakan. Bahwa janji anda tidak anda tepati dengan segera. Padahal yang saya tahu anda mengeluarkan waktu saat anda mengikrarkan janji itu. Ya .. janji dalam satu tahun kepemimpinan anda.
Saya hanya ingin mengingatkan seperti yang teman-teman saya lakukan. Namun saya tak suka dengan cara yang membuat jalanan macet, berkerumul dengan banyak orang dan berpanas-panas ria untuk sekedar mengingatkan Bapak dan semua yang sedang duduk dibangku empuk dengan menyandang status PEMERINTAHAN.
Saya sendiri hanya seorang manusia yang banyak khilaf. Yang tiba-tiba saja terlintas untuk menulis surat cinta untukmu Pak. Dengan segala hormat saya meminta maaf sekali lagi jika menurut Bapak ini sangat tidak sopan.
Saya sendiri berbicara dan bertanya karena saya memang bingung dan terlalu bodoh dalam hal seperti ini. Bukan karena saya mengetes kemampuan Bapak sebagai seorang Pimpinan. Jujur dalam hati yang paling dalam saya sangat menyukai Bapak, bahkan saya pernah membela Bapak di saat yang lain tidak menyukai Bapak. Saya sendiri juga bukan bermaksud menjilat Bapak. Saya menaruh sebuah harapan kecil dari bangsa yang besar di dalam sebuah periode kepemimpinan Bapak.
Apa Bapak melihat banyak yang melakukan aksi hari ini ? Bahkan bukan sekali ataupun dua kali mereka semua melakukan aksi. Berkali-kali malah. Apa bapak tidak melihatnya ? Saya dengan segala hormat hanya ingin bertanya kepada Bapak. Apa yang sekarang Bapak pikirkan saat ini ? Saya mungkin sudah bisa menebak jawabannya. Namun saya sungguh ingin mendengar jawaban ini langsung dari Bapak. Seperti saya yang sedang meminta jawaban kepada Ayah saya sendiri.
Namun jika ini terlalu berat untuk dijawab maka saya putuskan untuk mempelajari negara ini dari berbagai narasumber. Tapi saya tetap berharap mendapatkan jawaban dari Bapak.
Sungguh saya sedih mendengar Bapak diteriaki orang dan di suruh mundur dari kursi kepemimpinan Bapak. Apakah mereka pernah berpikir jika sangat sulit berada di posisi itu. Jika saya yang Bapak tawarkan maka dengan setulus hati saya akan menolaknya.
Apa Bapak tahu, dulu Bapak sangat tampan dan berwibawa. Dan malam ini saya mendengar dari mulut teman saya sendiri kalau Bapak tidak sewibawa yang terlihat. Saya sakit hati mendengarnya, saya ingin membela bapak mati-matian. Karena mana ada seorang anak yang rela jika Ayahnya dijelek-jelekkan di depannya. Saya tidak suka Bapak dibilang tidak tegas, baik tegas untuk diri sendiri ataupun kepada rekan Bapak yang sedang duduk berleha-leha dikursi dimana tempat itu disebut sebagai tempat para wakil rakyat. Namun saya tak tahu harus berkata apa lagi.
Jika Bapak ada disamping saya saat itu. Apa yang akan Bapak lakukan ? Hanya itu yang saya ingin tahu.
Bapakku sayang, Bapakku tercinta. Tak pernah sedetikpun saya berpikiran negatif tentang Bapak. Karena Bapak adalah Bapak saya. Dan sebagai seorang anak. Saya hanya mampu mengingatkan Bapak agar Bapak tidak lupa akan janji Bapak kepada anak-anak kecil ini yang sedang tinggal disebuah negri yang besar namun sedang merasa kecil.
Saya dengan segala hormat dan permintaan maaf jika saya mengeluarkan kata-kata yang sekiranya kurang berkenan di hati Bapak.

Salam Hormat,
Ana Mawar Iriani